Lanjut ke konten

Pewaris Ajaran Syekh Siti Jenar – Membuka Pintu Makrifat

Februari 16, 2012
  1. Syekh Siti Jenar dan Dua Pewarisnya

Dalam serat Syekh Siti Jenar yang ditulis oleh Raden Sasrawidjaja alias Raden Pandji Natarata,seorang Panji (pejabat) di daerah Ngijon Yogyakarta yang kemudian mengembara menggeluti ilmu makrifat,dikisahkan bahwa keberadaan tokoh ini semula berasal dari cacing akibat sihir ayahnya sendiri yang merupakan seorang penganut agam Hindu-Budha.Penggambaran cacing sesungguhnya merupakan simbol bahwa Syekh Siti Jenar adalah orang yang berasal dari kalangan sudra atau kelas budak yang tidak mempunyai banyak hak sebagai warga negara pada masa Majapahit dan Demak.Maka kisah tentang Syekh Siti Jenar ini cukup menarik bila di lihat dari kacamata perjuangan politik.Berdasarkan peta politik di Demak pada waktu itu,sesungguhnya Siti Jenar adalah representasi politisi yang benar-benar tidak lahir dari kalangan elite-baik elite agama islam yang berkuasa maupun elite bangsawan Majapahit waktu itu.Sehingga,untuk melakukan misi politiknya sebagai wong cilik,ia harus merangkul kekuatan elite lama yaitu Ki Ageng Pengging sebagai muridnya.Seperti dapat kita kita baca dari buku Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar,Ki Ageng Pengging adalah cucu dari raja Majapahit.

Maka sebenarnya,perjuang Syekh Siti Jenar bukan hanya melawan formalitas agama para wali tetapi juga merupakan misi politik wong cilik yang benar-benar berangkat dari keluarga wong cilik.Manunggaling Kawulo Gusti yang merupakan inti ajarannya,sesungguhnya tidak hanya berarti kemanunggalan Tuhan dan hamba-Nya namun juga kemanunggalan antara penguasa dengan rakyatnya.Jadi,salah satu kebohongan para wali yang ditolak oleh Syekh Siti Jenar adalah bangunan feodalistik perwalian Tuhan yang mereka lakukan.Dengan bangunan feodalistik itu sangat sulit untuk mengukur,seberapa jauh para wali itu mewakili aspirasi mayoritas rakyat yang wong cilik.Bisa dilihat, hampir semua wali itu berangkat dari keluarga elite,baik dalam kategoti agama maupun politik.Kalau tidak bangsawan,ya putra ulama besar (yang di negara asalnya juga menjadi elit politik).

Kenyataan seperti ini penting untuk dikemukakan untuk melihat realitas politik sekarang.Hampir semua pemimpin negeri ini tidak lain adalah bagian dari keluarga elite yang bertarung untuk mendapatkan kue kekuasaannya.Ada yang memang anak bekas Presiden atau anak pembesar agama ,dan elite sejenis lainnya.Mungkin bisa saja mereka mewakili satu partai berbasis wong cilik,tapi sampai sekarang sulit untuk membuktikan bahwa partai-partai yang ada benar-benar memperjuangkan kepentingan politik wong cilik.Kegagalan misi politik Syekh Siti Jenar yang murni gerakan politik wong cilik,mungkin merupakan kenyataan yang terus berulang dalam realitas politik dulu hingga kini di Nusantara.Pada akhirnya,gerakan politik wong cilik di negeri ini seperti yang diperjuangkan Syekh Siti Jenar dengan melihat sejarah Demak tampaknya hanya mungkin berhasil bila tetap berkoalisi dengan elite bersih yang ada.Dan munculnya kasultanan Pajang yang di pegang oleh putra Ki Ageng Pengging ,Sultan Hadiwijaya,sesungguhnya hanyalah salah satu bentuk eksperimentasi dari gerakan politik ini. (bersambung)……Rujukan di ambil dari buku Pewaris Ajaran Syekh Siti JenarĀ  Membuka Pintu Makrifat Karya ASHAD KUSUMA DJAYA Pengantar DR ABDUL MUNIR MULKHAN

<script src=”http://kumpulblogger.com/sca.php?b=181352&#8243; type=”text/javascript”></script>

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: