Skip to content

Pewaris Ajaran Syekh Siti Jenar

Februari 16, 2012

Pada laman sebelumnya telah saya posting tentang pewaris ajaran Syekh Siti Jenar,beliau memiliki dua pewaris yang tampaknya menguasai betul ilmu makrifat Syekh Siti Jenar.Selanjutnya akan kita bahas tentang kedua pewaris tersebut.

a. Ki Ageng Pengging

Ki Kebo Kenanga sesungguhnya adalah Ki Ageng Pengging III,putra dari Ki Ageng Pengging II yang tak lain adalah Raden Adipati Jayaningrat.Sedang ibunya adalah Raden Ajeng Pambayun putri Prabu Brawijaya V,sehingga Ki Ageng Pengging ini (Ki Kebo Kenanga) sesungguhnya masih termasuk cucu dari Raja Majapahit itu.Dengan demikian bagaimanapun juga Ki Ageng Pengging merupakan seorang bangsawan yang karenanya membuat Sultan Demak merasa tergangu atas pembangkangannya.

Bila dilihat dari peta,letak Pengging sekarang tempat tinggal Ki Kebo Kenanga masuk daerah Kabupaten Boyolali,kira-kira 8o kilometer sebelah selatan demak.Daerah Pengging ini berdekatan dengan daerah Tingkir (tempat dibesarkannya Jaka Tingkir/Sultan Hadiwijaya) yang sekarang menjadi daerah Kartasura.Penulis pernah mengunjungi makam Ki Kebo Kenanga yang ditunggu oleh juru kunci bernama Mbah Harso.kompleks makam dibelakang sebuah Masjid Muhammaditah itu,tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan makam Yasadipura (pujangga Kraton Surakarta) yang juga masih di daerah Pengging.Yasadipura sesungguhnya masih terhitung anak keturunan Ki Kebo Kenanga,namun makamnya jauh lebih dipadati pengunjung ketimbang makam Ki Kebo Kenanga alias Ki Ageng Pengging.Melihat makam Ki Ageng Pengging,kita akan ragu bahwa itu adalah makam ayah seorang Raja.Hal ini mungkin karena bagaimanapun juga ia tetap tergolong seorang pemberontak.Berbeda dengan Yasadipura anak keturunannya yang menjadi pujangga besar Istana Surakarta.Atau mungkin sebagaimana informasi yang saya terima telah banyak orang yang tahu bahwa disebelah makam Yasadipura itulah sebenarnya tempat pamejangan (mengurai ilmu makrifat) Ki Ageng Pengging.Konon,atas inisiatif beberapa kalangan Islam di sekitar makam yang beraliran purifikasi,tempat pamejangan itu diberi nisan sehinnga tampak seperti makam juga.

Dilihat dari konstelasi politik,Ki Ageng Pengging adalah elite politik lokal yang memiliki hubungan kuat dengan pusat kekuasaan di era Majapahit.Maka dengan adanya pergeseran pusat kekuasaan ke Demak,posisi patronase yang telah dibangun oleh ayahnya dengan mengawini putri Raja jelas terancam.Dan sebagaimana yang terjadi dalam setiap krisis kenegaraan,selalu saja ada ketegangan antara elite lokal dengan elite politik di tingkat nasional.Meski sesungguhnya dalam konteks ini,Ki Ageng Pengging tidak memiliki agenda yang menggoyang kekuasaan.Yang dilakukannya hanya bertani dan tentu saja mendidik masyarakat tani (wong cilik) sebagaiman dapat kita simak pada kutipan Serat Syekh Siti Jenar berikut ini:Menjawab Ki Ageng Pengging:“Saya tidak mau di panggil raja,untuk datang di istana.Saya hanya bermukim di desa,menanam padi,palawija dan sebagainya.Adapun sang Raja mengganggu orang yang menyebarkan ilmunya,itu bukan urusan saya.Kemampuan orang yang mengolah budi,itu hanya ada pada yang senang saja.Saya membimbing orang orang lain,tiada berkeliling kemana-mana.Mengapakah raja melarang orang yang menuruti keinginan?Bukankah keinginan itu kepunyaan pribadi?Lagi pula bumi dan langit ini bukan milik Sri Narata,melainkan milik orang banyak.Milik raja itu hanya pajak,karena ia sudah membuat uang.Balik isi dunia ini,orang banyak menganggap miliknya pribadi.”

Ketegangan antar elite dibaca oleh pejuang politik pro wong cilik seperti Syekh Siti Jenar sebagai peluang untuk memaksakan agenda wong cilik kepada kaum elite.Dengan kacamata makrifatnya,Syekh Siti Jenar sangat jeli melihat peluang ini.Maka untuk menyusun kekuatan awal,Ki Ageng Pengginglah yang dihubungi.Meski perjuangan ini tidak membuahkan hasil,namun dalam logika sintesa hal itu dapat dilihat hanyalah sebuah proses ke arah kesempurnaan.Hingga menapak generasi kedua,yaitu masa putra Ki Ageng Pengging yang bernama Mas Karebet alias Jaka Tingkir,proses itu telah berwujud eksperimen politik dengan pendirian kerajaan Pajang.Setelah itu,ketika kekuasaan Pajang berakhir,proses sintesa berikutnya oleh generasi kemudian dari para pewaris ajaran Syekh Siti Jenar di format menjadi cikal bakal gerakan masyarakat sipil.Dan dalam kisah Pangeran Panggung,bentuk perjuangan itu bisa dilihat kerangkanya.

Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: