Skip to content

Pewaris Ajaran Syekh Siti Jenar-Membuka Pintu Makrifat

Februari 27, 2012

Pewaris ajaran Syekh Siti Jenar sebelumnya adalah Ki Ageng Pengging,berikut ini adalah pewaris ajaran Syekh Siti Jenar yang kedua.

B.Pangeran Pangeran

Dalam Serat Suluk Malang Sumirang,Pangeran Panggung disebutkan sebagai adik tengah Pangeran Ngudung yang dinyatakan sebagai Ki Cakrajaya alias Sunan Geseng.Dalam Serat Babad Jalasutra,tertulis bahwa Pangeran Panggung adalah guru Sunan Geseng.Ia disebutkan cucu dari Prabu Brawijaya V dengan ayahnya bernama Jaka Pamekas alias Pangeran Kanduwuran.Meski sulit untuk menelusuri kebenarannya karena referensi yang terbatas,namun penulis menduga bahwa nama itu tertukar (kacau) dengan nama nama putra Raden Patah (Raja Demak pertama) yaitu Bagus Pamekas dan Raden kanduwuran.Hanya saya dalam konteks ini,penulis meyakini bahwa Pangeran Panggung adalah Guru Ki Cakrajaya yang dahulunya bernama Sunan Geseng.

Dalam Babad Jalasutra dikisahkan bahwa pada akhirnya,Pangeran Panggung mendirikan padepokan di bukit Jalasutra.Disinalah juga,Pangeran Panggung yang kemudian bergelar Kyai Ageng Jalasutra dimakamkan atas kehendak Sultan Agung.Pemakamannya disertai dengan upacara kehormatan (pakurmatan ageng) yang dihadiri oleh wakil Kanjeng Sultan Agung.Adapun lokasi makam Jalasutra tersebut di wilayah Kecamatan Piyungan arah tenggara kota Yogyakarta,sejauh  kira-kira 25 Km.

Adapun muridnya yaitu Ki Cakrajaya,dimakamkan di dekat tempat tinggalnya di atas bukit di dusun Kuthan yang saat ini termasuk dalam Kecamatan Lendah kabupaten Kulon Progo,Yogyakarta.Penulis tidak banyak mendapat gambaran tentang makam Ki Cakrajaya ini.Hanya saja,banyak juga orang yang meyakini bahwa Pangeran Panggung dan Ki Cakrajaya (Sunan Geseng) ini adalah pribadi yang Tunggal.Dan karenanya mereka yakin,makam Ki Cakrajaya juga bertempat di bukit Jalasutra itu.

Tidak banyak yang dapat dikisahkan dari pribadi Pangeran Panggung kecuali pendirian padepokan dan hukum bakar yang ditimpahkan para wali kepadanya karena menjadi murid Syekh Siti Jenar.Kisah sang Pangeran yang di bakar namun tidak terbakar ini memiliki makna yang memberi pelajaran bagi para penempuh ajaran makrifat.Ditambah uraian makrifat yang di ajarkannya sebelum masuk ke api dan apa yang di tulisnya di dalam api,akan membantu mereka yang memang telah siap menerima ajaran makrifat.Itulah kedua pewaris ajaran Syekh Siti Jenar yang memang benar-benar memahami betul ajaran dari Syekh Siti Jenar.

About these ads

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: