Skip to content

Pewaris Ajaran Syekh Siti Jenar – Membuka Pintu Makrifat

Februari 25, 2012

I  Syekh Siti Jenar Dan Dua Pewarisnya

Seperti yang saya janjikan pada posting terdahulu tentang pewaris ajaran Syekh Siti Jenar,maka kali ini akan saya lanjutkan postingnya.

 

Perjuangan Syekh Siti Jenar merupakan sebuah gerakan reformasi total yang ingin mengembalikan visi awal pendirian kerajaan Demak.Dalam tafsir sosial politik Babad Demak oleh Atmodarminto,pendirian kerajaan Demak visi egaliter yang menyatukan gerakan santri yang disimbolkan dengan keris kyai Cerubuk dengan gerakan rakyat yang disimbolkan dengan keris kyai Sangkelat.Dalam krisis menjelang keruntuhan Majapahit,pusaka kerajaan Majapahit berupa keris Condongcampur mengamuk berubah menjadi teluh yang menggambarkan terjadinya kerusuhan pada waktu itu.Kaum saudagar yang disimbolkan dengan keris pusaka Sabuk Inten tidak mampu mengendalikan kerusuhan (kesaktian Condongcampur) itu.Alhasil,hanya penggunaan kekuatan kyai Sangkelat yang bisa meredam kerusuhan itu.

Proses penyatuan gerakan santri dengan gerakan rakyat itu tidak terjadi dengan tiba-tiba.Ia melewati sebuah proses berliku yang melibatkan elite santri berhadapan dengan rezim lama (Majapahit) yang meminta dibuatkan keris Segara Wedang pada seorang Mpu Muda (lambang gerakan kaum muda kerkyatan) dan kekuatan oposisi Blambangan yang merayu Mpu Supa untuk menyerahkan Kyai Sangkelat (simbol pimpinan gerakan rakyat) pada mereka.Alhasil,para pendiri kerajaan Demak berhasil menyakinkan gerakan rakyat untuk bersatu membangun kekuasaan egaliter baru yang dimulai dari Kadipaten Bintoro.

Pada perkembangan berikutnya,ketika gerakan santri telah mampu menguasai bekas wilayah Majapahit maka tanpa terasa kepemimpinan mereka  semakin menguatakan posisi dewan agama sebagai otoritas pemegang kebenaran tunggal.disini,perjuangan politik wong cilik seperti Syekh Siti Jenar memiliki dua pilihan yang berat,yaitu mengikuti alur politik Demak yang egaliter secara politik (terlihat bahwa batas kerajaan dan rakyat tidak begitu kentara) tetapi elitis dalam memaknai  kebenaran dan yang sebaliknya,yaitu egaliter dalam pemhaman keagamaan tetapi elitis secara politik.

Pilihan Pertama,persis seperti konsep partai tunggal dalam negara dimana ada otoritas yang menentukan parameter kebenaran sedangkan pilihan kedua berwujud penguatan kekuasaan yang berdampak stabilitas dalam keragaman yang dijaga betul oleh kekuasaan yang kuat.Sesungguhnya,bila membaca Serat Syekh Siti Jenar ,tampaknya ada keinginan para muridnya untuk mengakomodasi kedua pilihan tersebut.Yaitu sebuah cara keberagaman yang egaliter dimana masing-masing individu diberi keleluasaan untuk berproses secara bertanggungjawab,dan kehidupan seperti itu dijamin oleh sebuah kekuasaan yang memiliki kekuatan yang bersumber dari rakyat.

Kekuasaan boleh saja diasumsikan sebagai pemberian atau wahyu dari sang Pemilik kepada yang terpilih.Namun pemahaman itu tidak dengan sendirinya menghapus kenyataan bahwa kekuasaan itu berada dalam komunitas hidup bersama.Kekuasaan meskipun didapatkan dari Wahyu adalah wewenang yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang untuk menjalankan fungsi-fungsi politik di dalam dan bagi suatu kehidupan bersama tersebut.Maka yang paling penting ditanyakan dari kekuasaan adalah untuk apa dan untuk siapa kekuasaan itu dijalankan atau diperebutkan.Jika kekuasaan itu dijalankan sebagai ibadah kepada Allah SWT,bukan berarti Allah saja yang berhak melakukan pengawasan.Diperlukan suatu mekanisme yang terbuka bagi rakyat untuk melakukan koreksi dan pengawasan.Karena pada dataran empirik,kekuasaan demi Tuhan itu harus berfungsi bagi kepentingan manusia sebagai rakyat atau warga.

Namun waktu itu,pilihan politik wong cilik seperti Syekh Siti Jenar sangat terbatas.Maka para pengikutnya pun pada akhirnya harus berkoalisi juga dengan wali reformatif seperti sunan Kalijaga untuk melakukan eksperimentasi gagasan politiknya.Walaupun pada akhirnya gagal dengan hancurnya kerajaan pajang,namun kegagalan itu mengantarkan pada suatu bentuk baru perjuangan wong cilik.Mulai saat itu,para pewaris ajarn Syekh Siti Jenar memilih gerakan swadaya masyarakat sebagai pilihan politik yang menurut Gus Dur (waktu masih menjadi Presiden) ketika memberi sambutan pada Peringatan Isro’ Mi;raj di Masjid Istiqlal Jakarta,hal itu merupakan cikal bakal gerakan LSM pertama di Indonesia.Setelah jatuhnya Sultan Hadiwijaya,generasi berikutnya para pewaris ajaran Syekh Siti Jenar dapat belajar dari kegagalan eksperimentasi tersebut.Mereka mengembara sepanjang Bengawan Solo dan menyebar mendirikan pesantren-pesantren dan padepokan untuk menguatkan civil society.Pendirian pesantren dan padepokan tersebut memiliki dua dimensi yang sangat penting bagi kelangsungan perjuangan wong cilik.Pertama,pendirian pesantren dan padepokan tersebut jelas merupakan revolusi sistem pendidikan secara besar-besaran.Sebab,sebelum-sebelumnya pendidikan yang ada hanya diperuntukan bagi anak bangsawan atau calon raja saja.Jadi sangat terbatas sifatnya,rakyat tidak memiliki akses terhadap pendidikan.Mungkin kondisi ini persis dengan zaman sekarang di mana pendidikan hanya bisa di akses oleh segelintir orang yang berduit saja.Maka dalam konteks seperti ini,gagasan para pewaris ajaran Syekh Siti Jenar mempunyai makna penting untuk di perbincangkan kembali.

Adapun poin penting yang kedua adalah bahwa pendirian pesantren dan padepokan tersebut merupakan strategi penguatan masyarakat sipil dalam berhadapan dengan negara yang akan menjadi zalim jika tidak ada kontrol sama sekali.Apalagi jika pimpinan negara mendapatkan legitimasi spiritual sebagai wakil wakil Tuhan (waliyullah) dan melupakan gagasan Manunggaling Kawulo Gusti.Disebabkan Gusti tidak manunggal dengan kawulo,maka mereka tidak mampu membendung laju kekuatan bangsa asing/Belanda.Dan mulai saat itulah terjadi penjualan aset aset negara pada kompeni.Hal ini berkaitan dengan cara pandang kekuasaan yang lupa akan pentingnya ajaran Manunggaling Kawulo Gusti.Mereka begitu mementingkan posisi Gusti hingga saling berebut sampai-sampai melibatkan bangsa asing dengan kompensasi sebagian daerah kekuasaan harus di lepaskan untuk mereka.Hingga pada akhirnya Raja (Gusti) tidak memiliki apapun untuk bisa manunggal dengan kawulonya.Bentuknya yang paling mungkin hanya pada aspek mistik dan kesenian,maka tidak perlu heran kalau kraton di Indonesia tidak bisa mentransformasikan ajaran Manunggaling Kawulo Gusti dalam dimensi politik di atas.Justru yang kita terima adalah transformasinya dalam bentuk mistik.Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti seolah-olah hanya urusan batin saja.

Kabar tentang adanya atau tidak adanya Syekh Siti Jenar memang simpang siur,tetapi ajaran yang dikembangkannya memang terbukti ada.Mungkin berbagai pendapat yang berkutat pada nyata atau tidak nyatanya Syekh Siti Jenar itu ada yang benar,tetapi penulis mengajak pembaca untuk melihat dengan cara lain terhadap perdebatan itu.Sangat mungkin,kenyataan atas tidak jelasnya figur Syekh Siti Jenar dikarenakan ia memang betul-betul politikus agamawan (satria pinadhita) yang berbasis keluarga wong cilik sehingga sejarah tidak banyak mencatatnya dengan detail.Berbagai mitos tentang asal usul Syekh Siti Jenar yang aneh aneh,lebih menunjukkan gelapnya latar belakang keluarganya.Kita tahu,sejarah bagaimanapun  adalah versi penguasa.Versi sejarah yang bertentangan dengan penguasa tidak akan dibiarkan hidup.Maka dalam perspektif sejarah kerajaan,keluarga Syekh Siti Jenar dianggap tidak penting,yang dipentingkan  dari kisah Syekh Siti Jenar hanyalah ketika ia masuk berinteraksi dengan kehidupan para penguasa (istana-sentris).

Kelurga Ki Ageng Pengging masih bisa kita rujuk silsilah keluraganya,meskipun ia kalah dengan penguasa namun ia adalah seorang bangsawan dan apalagi anaknya sempat menjadi raja.Tentu sang raja butuh silsilah yang jelas untuk justifikasinya sebagai pewaris wahyu kerajaan.Jadi berbeda dengan Syekh Siti Jenar yang silsilahnya gelap karena memang berasal keluarga wong cilik.

Termasuk dalam cara Syekh Siti Jenar menuntut ilmu,banyak cerita tentang itu penuh dengan mitos.Bagaimana mungkin Syekh Siti Jenar yang seorang cacing hanya mendengar uraian makrifat dari sunan Bonang tiba-tiba menjadi manusia wali.Berbagai cerita itu,menurut penulis merupakan cara orang untuk menunjukkan gelapnya silsilah Syekh Siti Jenar dalam berguru.Berbeda dengan para wali yang terang siapa gurunya,Syekh Siti Jenar tidak pernah diketahui benar saipa gurunya.Termasuk silsilah urutan belajar sang Guru hinnga sampai pada kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Disini menurut penulis,gaya belajar Syekh Siti Jenar merupakan gaya belajar dalam ajaran makrifat yang sesungguhnya (tidak terjebak dengan feodalisme gerakan tarekat).Gaya belajar Syekh Siti Jenar sebagaiman akan di uraikan di belakang sebagai model gaya belajar makrifat-bisa melihat apapun dan siapapun sebagai sarana menangkap ayat-ayat Tuhan yang tersebar di seluruh mayapada.Penghormatan kepada guru dalam hal ini hanyalah salah satu bagian saja dari keharusan berprasangka baik,namun itu bukan berarti ketaatan yang mutlak tanpa pikiran sama sekali.

Maemang dalam kenyataanya,banyak murid Syekh Siti Jenar yang kurang sempurna ilmunya justru menimbulkan keonaran.Namun,itu harus di baca sebagai sebuah proses wong cilik belajar tanpa bimbingan sang guru (diberi kebebasan melihat oleh guru),yaitu melalui dialektika dialektika.Keinginan untuk segera mati,merupakan usaha untuk menyelesaikan dialektika yang tak bisa dipahami.Karena dalam bayangan mereka,kematian akan membuka layar kesadaran sehingga “byar”:terang benderang karena hijab telah terbuka.Dan itulah kehidupan sejati,lepas dari dunia kematian.

Kenyataan itu di satu sisi memang menunjukkan bahayanya belajar ilmu makrifat ala Syekh Siti Jenar yang begitu egaliter.Padahal sebenarnya dalam strategi belajar,para murid itu hanya kurang sabar saja untuk terus berusaha membuka rahasia-rahasia dialektika yang terjadi di alam.Hal itu,persis ketidaksabaran Nabi Musa  ketika berguru makrifat kepada Nabi Khidir.Karena ketidaksabaran itu,para murid justru melihat bahwa perbedaan/dialektika akan melahirkan konflik dan keonaran.Padahal dalam ajaran makrifat sebagaimana disampaikan kanjeng Nabi Muhammad perbedaan itu adalah rahmat.Di sini para murid gagal memahami dialektika sebagai jembatan untuk melahirkan rahmat.

Etos kesabaran dan keseriusan tak kenal lelah yang merupakan prinsip belajar makrifat dalam mengurai berbagai dialektika tampaknya dimiliki oleh dua pewaris ajaran Syekh Siti Jenar yang menjadi titik sentral pembahasan dalam buku/posting ini.Ki Ageng Pengging dan Pangeran Panggung adalah dua pewaris ajaran Syekh Siti Jenar  yang tampaknya menguasai betul ilmu makrifat Syekh Siti Jenar.Berikut ini,kita akan membahas kedua orang pewaris tersebut.Tetapi sabar dulu sebab bersambung……

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: